/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
Di kampung-kampung Sulawesi tempo dulu, ada satu tradisi
sederhana yang kini tinggal cerita: “ba coho”—istilah yang digunakan
orang Batui untuk menyebut keramas menggunakan santan kelapa.
Era 1970–1980-an, shampo dalam
botol masih barang langka. Conditioner bahkan belum dikenal. Yang ada hanyalah
pohon kelapa yang tumbuh subur di halaman rumah. Dari buahnya, orang bisa
mendapat hampir segala yang dibutuhkan—termasuk “ramuan ajaib” untuk merawat
rambut.
Sore hari di
Batui, Moilong, Bunta, hingga Balantak, pemandangan ini lumrah: suara anak-anak
baru pulang mandi di sungai, sementara dari dapur terdengar gesekan parutan
kelapa. Santan kental hasil perasan pertama disimpan dalam mangkuk, lalu dioleskan
perlahan ke rambut. Dengan sabar, kulit kepala dipijat hingga terasa dingin,
lembap, dan harum kelapa segar.
Ilustrasi
Bukan hanya
santannya. Orang tua dulu bahkan memanfaatkan ampas kelapa—bekas
parutan yang sudah diperas. Ampas itu ditaburkan di kepala, digosok perlahan,
seolah menjadi scrub alami. “Rasanya agak kasar, tapi bikin kulit kepala
bersih,” begitu kenangan banyak warga. Setelahnya, rambut dibilas dengan air
sungai atau timba di sumur.
Khasiatnya
dipercaya manjur: ketombe berkurang, rambut lebih kuat dan hitam berkilau,
kulit kepala pun terasa lembut. Ada pula sisi lucu yang tak bisa dilupakan.
Kadang, sisa-sisa ampas kelapa masih menempel di rambut hingga membuat teman
sebaya tertawa. Belum lagi baunya yang khas—ada yang bilang harum alami, tapi
kalau kurang bersih membilasnya bisa jadi agak anyir.
Namun semua itu
adalah bagian dari cerita hidup tempo dulu. “Ba coho” bukan sekadar merawat
rambut, melainkan bukti kedekatan manusia dengan alam. Pohon
kelapa selalu ada, tinggal dipetik, diparut, diperas, lalu dipakai. Murah,
mudah, dan diwariskan turun-temurun.
Kini, shampo
modern dengan aroma buah tropis menggantikan kebiasaan itu. Generasi muda
mungkin hanya mendengar cerita dari orang tua atau kakek-nenek mereka. Tapi
bagi yang pernah mengalaminya, “ba coho” adalah nostalgia: tentang sore yang
hangat, parutan kelapa di dapur, suara air sungai, dan pijatan lembut ibu di
kulit kepala.
Lebih dari sekadar
ritual perawatan, “ba coho” adalah jejak budaya—warisan kearifan lokal
yang mengajarkan bahwa alam selalu punya cara menjaga manusia, sebelum semuanya
digantikan oleh pabrik dan botol plastik.
Topik Terkait
Pilihan Untukmu
Soroti Layanan RSUD Luwuk dan Karhutla, Cipayung Plus Gelar Aksi di DPRD Banggai
Dua Kasus Sabu Terungkap dalam Semalam, Polresta Banggai Sita 18,45 Gram
Hilang Kendali Tiga Mobil Terlibat Tabrakan Beruntun di Poros Batui
Kapolsek Lamala Imbau Warga Cegah Karhutla dan Salurkan Bansos di Desa Sirom
Hilang Kendali di Jalan Menurun Desa Biak, Pengendara Motor 17 Tahun Tewas di tempat